Bagi mereka yang telah lama meninggalkan kota Makassar, dan bermaksud
kembali berkunjung ke kota ini, janganlah berharap menemukan wajah kota
yang sama. Wajar jika banyak orang yang terheran-heran dan berkata,
“Ih… ruko mi sedeng!” karena kota ini telah menjadi “hutan ruko”.
Syukurlah kalau anda belum mendapati rumah sendiri telah berganti dan
terbagi-bagi dalam beberapa petak kotak beton yang seragam.
- Bisnis Menggiurkan
Meringseknya ruko di setiap sudut kota tidak mungkin terus berkembang jika bisnis properti ini tidak menggiurkan.
Kemajuan jaman membawa manusia kepada tuntutan kehidupan yang lebih
efektif, efisien dan praktis. Alternatif hunian sederhana dan praktisan
yang dapat menampung segala aktivitas dengan skala ekonomi kecil, adanya
efisiensi waktu dengan adanya pencampuran fungsi hunian dan kerja,
adanya efisiensi lahan dan kemudahan pembangunan menjadi pemicu lahirnya
ruko.
Rumah tinggal yang terletak pada posisi strategis pun dibeli oleh sang investor kemudian dirombak dan dibagi dalam beberapa persil-persil. Maka tak heran jika setiap tiga bulan sekali bisa menghadirkan 40 hingga 50 ruko baru.
Rumah tinggal yang terletak pada posisi strategis pun dibeli oleh sang investor kemudian dirombak dan dibagi dalam beberapa persil-persil. Maka tak heran jika setiap tiga bulan sekali bisa menghadirkan 40 hingga 50 ruko baru.
Rata-rata sebuah unit ruko tipikal sekarang ini, berdasarkan
perhitungan sederhana, dapat dijual paling murah 1 milyar, sementara
modal yang dikeluarkan hanya berkisar sekitar 70 persen dari harga
jualnya. Modal per unit pun dapat ditekan lebih rendah lagi jika jumlah
unit yang dibangun semakin banyak. Perancangan maupun perizinan ruko
relatif “mudah” didapat karena tidak diperlukan keterampilan khusus dan
izin mendirikan bangunan pun senantiasa mudah didapat. Ditambah pula
dengan kemudahan fasilitas kredit pembangunan dan kepemilikan karena
kepastian “bisnis ruko” ini. Bukankah bisnis ini memang sangat
menggiurkan?
![]() |
sebuah ruko di jalan Dr. WS. Husodo berlantai empat yang di jual dengan harga 3,5 milyar |
Wakil Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Sulsel Harris Hody
mengatakan bahwa bisnis properti untuk ruko di Makassar memang sudah
over supply. Meski demikian, di wilayah atau tempat-tempat strategis
ruko tetap memiliki daya tarik sendiri untuk kalangan pebisnis.
Menurutnya, harga untuk ruko tiga lantai bisa mencapai Rp. 1 miliar
hingga Rp. 2 miliar.
Haris juga mengatakan bisnis ruko tak memiliki dampak atau pengaruh
dari krisis finansial global. Alasannya, yang membeli ruko adalah
kalangan pebisnis yang pangsa pasarnya bukan untuk internasional, tapi
pasar lokal dan nasional.
- Kesemrawutan
Tapi kenyataannya, banyaknya ruko bukan berarti makin banyak pula
orang Makassar yang punya toko. Selain banyaknya ruko yang sekadar “ru”
alias dijadikan rumah semata-mata, booming ruko ini tidak dibarengi pula
dengan penataan lingkungan.
Hampir semua kawasan kota tak luput dari bangunan ruko. Mulai dari
Kecamatan Mamajang khususnya Jalan Veteran, Kecamatan Ujungpandang
(daerah Sombaopu, Pecinan dan sekitarnya), Kecamatan Bontoala (Jl.
Mesjid Raya dan Jl. Urip Sumihardjo), Kecamatan Panakukang (Jl.
Boulevard, Pengayoman dan Jl. Pettarani, Jl. Adiyaksa), Kecamatan
Rappocini (Jl. Rappocini), Kecamatan Tamalate (Tanjung Bunga), Kecamatan
Tamalanrea (Jl Perintis Kemerdekaan) dan berbagai tempat lainnya.
Dahulu Kota Daeng memiliki pola pembangunan kota linier. Yaitu, pola
kota yang mengikuti garis pantai. Tetapi karena adanya pembangunan
secara terus menerus, polanya berubah menjadi multiform/poliform dengan
pola atau struktur tata ruang kota yang lebih dari satu.
Di luar kegairahan “booming ruko”, tipologi ruko masa kini ternyata
memberikan beban berat bagi kota karena dengan sendirinya menambah
keramaian orang dan kendaraan. Luas lahan yang diperuntukkan bagi parkir
per unit ruko biasanya tidak lebih dari 5 x 7 meter sehingga
diperkirakan tidak bisa mengakomodasi lebih dari 1,5 roda empat yang
parkir. Ini jauh dari mencukupi kalaupun kita hanya mengasumsikan dua
kendaraan roda empat yang harus ditampung tiap ruko. Hal ini semakin
diperparah karena di banyak tempat, ruko tidak berada di kawasan
peruntukannya, melainkan berada di antara rumah-rumah penduduk atau
tempat lain yang peruntukannya bukan sebagai kawasan perdagangan. Bisa
diduga selain kesemrawutan, kemacetan pun menjadi ekses yang
terhindarkan.
Hal ini belum ditambah dengan ekses hilangnya jalur hijau kota, jalur
pejalan kaki, dan kemacetan akibat kendaraan umum yang cenderung
berhenti di keramaian.
- Menyesakkan
Pembangunan ruko secara massal dengan bentuk homogen menyebabkan view
kota menjadi terbatas dan monoton. Dari sudut pandang pengusaha
properti, pembangunan monoton semacam ini sengaja dilakukan agar
mengeluarkan modal yang kecil dan mendapatkan untung yang besar. Namun,
dari sudut pandang psikologi perkotaan kondisi ini dapat menyebabkan
warga kota menjadi stres karena tidak adanya dinamisasi pemandangan.
![]() |
deretan ruko di kawasan panakukang yang tampak seragam menghadirkan kesan monoton dan membosankan |
Abu Lughod dalam tulisannya tentang “Writing against Culture” (1991)
menekankan bahwa penyeragaman menciptakan homogenitas yang menyebalkan
karena menghilangkan mosaik kultur dan subkultur yang sesungguhnya amat
memesona.
Pembangunan ruko yang menjadi semakin tidak terkendali tersebut hanya
menekankan aspek ekonomi saja, tanpa memerhatikan harmonisasi dengan
sekitar baik dalam penataan fasade, penempatan iklan, garis listplank
hingga mengaburkan identitas bangunan di wilayah sekitarnya.
Ruko merupakan satu tipologi bangunan khas perkotaan yang memiliki
koefisien dasar bangunan (KDB) cukup besar. Artinya, pada setiap
kapling, jumlah luas lahan terbangun jauh lebih besar daripada lahan
terbuka. Dalam aturan tata ruang yang ideal, dari seluruh luas tanah,
hanya 60-80% lahan yang seharusnya terbangun dan selebihnya 20-40%
merupakan lahan terbuka. Namun, sebagian besar bangunan ruko di
Makassar, seratus persen merupakan bangunan. Bahkan, jika ada yang tidak
terbangun, maka tanahnya pun sudah diperkeras. Ruko yang terbangun
tidak lagi memiliki halaman serta langsung lengket dengan bangunan di
sebelahnya.
Akibatnya sangat jelas, ketika hujan turun tak ada lagi tempat
resapan air. Jalan-jalan dan drainase yang ada menjadi satu-satunya
tempat mengalir dan genangan. Bila musim hujan kita akan disuguhkan
genangan bahkan banjir meski hujan hanya setengah hari mengguyur kota.
Jika sebongkah batu diletakkan di tengah suatu padang rumput dapat
mengubah kualitas iklim mikro di tempat tersebut, coba bayangkan
perubahan lingkungan yang akan terjadi jika struktur beton bak sebuah
“batu raksasa” yang kita kenal sebagai ruko ditempatkan di lahan yang
sebelumnya merupakan bangunan tunggal dengan KDB relatif lebih kecil
atau bahkan dibangun di atas ruang terbuka. Bukankah Makassar akan
terasa semakin panas?
Lagipula, bangunan-bangunan itu dibuat terlalu padat sehingga
terkesan sesak. Rancangan semodel tersebut miskin terhadap persyaratan
keamanan khususnya persyaratan kebakaran, kenyamanan dan kesehatan.
- Hilangnya Identitas Kota
Dulu, warga Makassar memiliki alternatif bernostalgia dengan
menyusuri kawasan kota lama yang dipenuhi dengan bangunan bersejarah
dengan desain antik. Kawasan semacam ini bisa ditemui misalnya di
sekitar pantai, di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman atau Jalan Dr.
Sutomo dan sekitarnya. Selain itu, kehadiran ruko di wilayah pecinan
memiliki khas yang membentuk identitasnya sendiri.
Tapi sekarang, kita harus siap menikmati ruko tanpa makna yang
“menyelip” di antara bangunan dan rumah tua itu. Mengaburkan identitas
bangunan yang pernah ada. Ironisnya, karena bangunan tua yang menjadi
bagian sejarah kota, satu per satu berganti rupa menjadi ruko. Kini, ke
mana gerangan mencari jejak sejarah melalui wajah kota?
Pembangunan ruko secara sporadis ini tidak lepas dari kesalahan
pengambil kebijaksanaan kota. Sebab, mereka yang punya wewenang
mengeluarkan izin membangun. Meskipun Rencana Tata Ruang kota telah
dirancang sedemikian rupa untuk menciptakan kota yang lebih baik tetapi
semua itu dengan mudahnya dilanggar. Hal inilah yang membuat bangunan
ruko tumbuh terus tanpa bisa dikendalikan dan melahirkan kota Makassar
seperti sebuah kota tanpa sejarah.
Ruko Ekologis
Kondisi seperti ini sebenarnya dapat diminimalkan jika saja setiap
ruko yang dibangun mengacu kepada konsep bangunan ekologis, yaitu suatu
pendekatan desain yang menempatkan arsitektur (termasuk bangunan dan
lingkungannya) sebagai bagian dari ekosistem yang tanggap dan bekerja
sama dengan komponen ekosistem lainnya, baik manusia, iklim, maupun
flora dan fauna.
Ruang-ruang yang direncanakan harus dapat memberi tempat yang nyaman
bagi manusia, tanggap dan bekerja sama dengan iklim. Hal ini dapat
dilakukan dengan membiarkan ruang terbuka yang dapat mempertahankan
fungsi ekologis tanah, dan pengintegrasian tanaman pada ruang
arsitektur.
Ruko yang ada di Kota Makassar umumnya kurang menerapkan sistem
bangunan alamiah. Bagian fasad bangunan dibuat flat tanpa kanopi
sehingga langsung diterpa panas matahari. Hal ini dapat berakibat lebih
cepatnya kulit bangunan menjadi panas. Dinding bata setebal 15 cm, atau
dinding kaca yang tanpa insulasi dengan cepat mengalirkan panas ini ke
dalam bangunan, sehingga meningkatkan kebutuhan AC yang boros energi.
Kapling ruko yang berderet dan memanjang, diselesaikan seolah-olah
hanya bagian depan dan belakang bangunan saja yang berhak atas cahaya
matahari untuk penerangan alamiah di siang hari. Ruang-ruang di
antaranya akhirnya harus menggunakan cahaya buatan yang lagi-lagi
membutuhkan pasokan energi dari PLN. Padahal, jika ruko didesain
memiliki void dengan skylight di atasnya, bukan tidak mungkin siang hari
penghuni rumah tidak harus menyalakan lampu.
Lanskap horizontal dilakukan dengan memanfaatkan halaman ruko yang
tidak luas sebagai ruang terbuka hijau. Belum adanya regulasi yang
mengatur secara rinci penggunaan sisa lahan ini, berakibat pemilik bebas
menutup muka tanah miliknya dengan perkerasan. Masih lebih baik jika
material yang dipilih tetap memungkinkan penyerapan air, seperti grass
block yang tampak dari beberapa ruko baru yang terdapat di Tamalanrea.
Namun justru lebih banyak ditemui material yang digunakan selain tidak
memungkinkan penyerapan air, malah menjadi bidang pemantul panas dan
cahaya matahari karena tidak cukup diteduhi pohon, seperti aspal atau
semen. Padahal, tanaman dapat menurunkan suhu mikro sampai 40 Celsius,
dapat menjadi pengendali arah angin, bufer debu, filter polutan, dan
peneduh yang diidamkan para pejalan kaki dan pemilik kendaraan.
Ruko memang tidak sesederhana rumah dan toko. Jika para arsitek yang
mendesain ruko peduli lingkungan dan Pemerintah Kota mau menetapkan
desain ramah lingkungan sebagai persyaratan perancangan ruko, degradasi
lingkungan di Kota Makassar dapat diminimalkan, sembari geliat ekonomi
juga bertambah baik. Dengan kata lain, paradigma pembangunan
berkelanjutan harus dipahami sebagai etika pembangunan, yaitu suatu
komitmen moral tentang bagaimana seharusnya bangunan semacam ruko
diorganisir dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan, bukan hanya
pembangunan ekonomi tetapi juga terkait dengan lingkungan hidup dan
sosial.
Kerugian yang disebabkan oleh dikorbankannya aspek sosial-budaya dan
aspek lingkungan hidup jika mau dikalkulasikan jumlahnya ternyata sangat
mahal. Bukankah ini berarti pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dari
pembangunan ruko hanya semu belaka?
Ruko-ruko yang kurang ramah lingkungan yang telah berdiri juga belum
terlambat untuk diperbaiki. Masih banyak hal yang dapat dilakukan
sebelum semuanya betul-betul terlambat. Ataukah memang telinga pejabat
Kota Makassar sudah tebal mendengar gerutu “Ih ruko mi sedeng” tanpa
pernah berusaha memikirkan penyelesaiannya?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar